Assalamu’aaikum Wr. Wb.
Kali ini aku mau posting teks anekdot yang sudah kubuat bersama teman-temanku. Teks anekdot ini berupa narasi. Kalau begitu, selamat membaca…
Semoga anekdot ini dapat menghibur kalian ^_^
Kali ini aku mau posting teks anekdot yang sudah kubuat bersama teman-temanku. Teks anekdot ini berupa narasi. Kalau begitu, selamat membaca…
Semoga anekdot ini dapat menghibur kalian ^_^
Pada suatu hari, disebuah Puskesmas, ada dua orang
suster yang terlihat sedang berjaga dibalik tempat administrasi. Suster Febi
sedang asyik menunggu pasien datang, sedangkan suster Lia sedang asyik dengan handphone dan makanannya. Datanglah
seorang pasien yang terlihat sedikit kotor dengan pakaian yang kurang enak
dilihat, dia datang bersama ibu-nya. Pasien itu bernama Neneng, dan ibu-nya
bernama Ijah. Merekapun segera datang ketempat administrasi untuk melakukan
pendaftaran. Tak lama setelah itu, datang seorang pasien yang berdadan layaknya
orang kaya, dia bernama Atunt.
Ibu Ijah hendak berbicara, tetapi suster Febi segera
memotongnya. Setelah itu suster Febi mengalihkan pandangannya pada Ibu Atunt
sambil berkata “Ada yang bisa saya bantu?” Awalnya si kaya merasa heran, karena
didepannya sudah ada yang mengantri terlebih dahulu. Tapi kemudian dia
tersenyum tipis, lalu segera merespon sang suster “Saya?”
Ibu Atunt segera mengisi formulir pendaftaran,
sedangkan Ibu Ijah menunggu Ibu Atunt selesai dengan perasaan kecewa. Setelah
selesai, Ibu Atunt menyerahkan formulir itu, dan suster Febi segera berkata
pada temannya “Sus… sus… suster!” Suster Lia menengok sebentar, lalu dia
kembali memainkan handphone-nya dan
berdiri. Setelah suster Lia melihat pakaian yang dikenakan Ibu Atunt, dia
segera menyimpan handphone-nya, lalu
dengan ramah mengantarkan Ibu Atunt ke ruang pemeriksaan. Selagi Ibu Atunt
diperiksa, Ibu Ijah malah disuruh untuk menunggu. Ibu Ijah dan anaknya pun
terpaksa menunggu.
Saat suster Lia mengantarkan Ibu Atunt ke ruang
pemeriksaan, ternyata Dokter belum datang. Suster Lia pun dengan ramah meminta
maaf karena membuat Ibu Atunt kembali menunggu. Diapun segera keluar dari
ruangan untuk memanggil Dr. Cokhieu.id.
Dr. Coikheu.id pun datang dan segera bertanya “Apa
keluhan Ibu?”. Ibu Atunt menjawab “Saya sering merasa pusing, mual, dan jantung
saya berdetak dengan kencang.” Dokter pun kembali menjawab “Oh begitu… ini
resepnya Bu, langsung berikan saja pada suster yang ada disana.” Setelah itu,
Ibu Atunt pun keluar tanpa diperiksa dengan benar.
Ibu Atunt segera menyerahkan resep itu pada suster Lia.
Lalu, Ibu Atunt disuruh menunggu sebentar. Sementara itu, Ibu Ijah kembali ke
tempat administrasi untuk menanyakan kapan giliran anaknya. Karena, sejak tadi
gilirannya tak kunjung datang. Saat itu, suster malah menanyakan tentang
kelengkapan surat-surat yang dibawa Ibu Ijah, dan juga tetang kartu BEPEJEJES.
Ibu Ijah merasa bingung, lalu kembali ketempat duduknya untuk mengambil
sesuatu.
Ibu Atunt dipanggil suster untuk menebus obatnya.
Sang susterpun memberikan obat itu, yang ternyata bukan obat pusing melainkan
obat panas dingin. Tetapi, Ibu Atunt tidak mengetahuinya. Saat Ibu Atunt
membuka tasnya untuk membayar obat, Ibu Atunt panik. Karena ternyata, tasnya
itu kosong.
Ibu Ijah kembali ketempat administrasi. Kemudian ia
melemparkan isi tas kucelnya, yang berisi banyak uang. Semua orang yang ada
disana –termasuk Dokter-, kaget melihatnya.
Neneng mengambil uang yang tersebar di atas meja,
lalu berkata “Berapa duit sih?!” Semua orang semakin ternganga melihatnya. Ibu
Ijah dan Neneng pun mengangkat dagunya dengan sombong. Kemudian Ibu Atunt
dengan wajah cerianya segera mengambil uang yang ada di atas meja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar