Selasa, 05 Mei 2015

Teks Anekdot "Berapa Duit sih?"

Assalamu’aaikum Wr. Wb.
Kali ini aku mau posting teks anekdot yang sudah kubuat bersama teman-temanku. Teks anekdot ini berupa narasi. Kalau begitu, selamat membaca…
Semoga anekdot ini dapat menghibur kalian ^_^


Pada suatu hari, disebuah Puskesmas, ada dua orang suster yang terlihat sedang berjaga dibalik tempat administrasi. Suster Febi sedang asyik menunggu pasien datang, sedangkan suster Lia sedang asyik dengan handphone dan makanannya. Datanglah seorang pasien yang terlihat sedikit kotor dengan pakaian yang kurang enak dilihat, dia datang bersama ibu-nya. Pasien itu bernama Neneng, dan ibu-nya bernama Ijah. Merekapun segera datang ketempat administrasi untuk melakukan pendaftaran. Tak lama setelah itu, datang seorang pasien yang berdadan layaknya orang kaya, dia bernama Atunt.
Ibu Ijah hendak berbicara, tetapi suster Febi segera memotongnya. Setelah itu suster Febi mengalihkan pandangannya pada Ibu Atunt sambil berkata “Ada yang bisa saya bantu?” Awalnya si kaya merasa heran, karena didepannya sudah ada yang mengantri terlebih dahulu. Tapi kemudian dia tersenyum tipis, lalu segera merespon sang suster “Saya?”
Ibu Atunt segera mengisi formulir pendaftaran, sedangkan Ibu Ijah menunggu Ibu Atunt selesai dengan perasaan kecewa. Setelah selesai, Ibu Atunt menyerahkan formulir itu, dan suster Febi segera berkata pada temannya “Sus… sus… suster!” Suster Lia menengok sebentar, lalu dia kembali memainkan handphone-nya dan berdiri. Setelah suster Lia melihat pakaian yang dikenakan Ibu Atunt, dia segera menyimpan handphone­-nya, lalu dengan ramah mengantarkan Ibu Atunt ke ruang pemeriksaan. Selagi Ibu Atunt diperiksa, Ibu Ijah malah disuruh untuk menunggu. Ibu Ijah dan anaknya pun terpaksa menunggu.
Saat suster Lia mengantarkan Ibu Atunt ke ruang pemeriksaan, ternyata Dokter belum datang. Suster Lia pun dengan ramah meminta maaf karena membuat Ibu Atunt kembali menunggu. Diapun segera keluar dari ruangan untuk memanggil Dr. Cokhieu.id.
Dr. Coikheu.id pun datang dan segera bertanya “Apa keluhan Ibu?”. Ibu Atunt menjawab “Saya sering merasa pusing, mual, dan jantung saya berdetak dengan kencang.” Dokter pun kembali menjawab “Oh begitu… ini resepnya Bu, langsung berikan saja pada suster yang ada disana.” Setelah itu, Ibu Atunt pun keluar tanpa diperiksa dengan benar.
Ibu Atunt segera menyerahkan resep itu pada suster Lia. Lalu, Ibu Atunt disuruh menunggu sebentar. Sementara itu, Ibu Ijah kembali ke tempat administrasi untuk menanyakan kapan giliran anaknya. Karena, sejak tadi gilirannya tak kunjung datang. Saat itu, suster malah menanyakan tentang kelengkapan surat-surat yang dibawa Ibu Ijah, dan juga tetang kartu BEPEJEJES. Ibu Ijah merasa bingung, lalu kembali ketempat duduknya untuk mengambil sesuatu.
Ibu Atunt dipanggil suster untuk menebus obatnya. Sang susterpun memberikan obat itu, yang ternyata bukan obat pusing melainkan obat panas dingin. Tetapi, Ibu Atunt tidak mengetahuinya. Saat Ibu Atunt membuka tasnya untuk membayar obat, Ibu Atunt panik. Karena ternyata, tasnya itu kosong.
Ibu Ijah kembali ketempat administrasi. Kemudian ia melemparkan isi tas kucelnya, yang berisi banyak uang. Semua orang yang ada disana –termasuk Dokter-, kaget melihatnya.
Neneng mengambil uang yang tersebar di atas meja, lalu berkata “Berapa duit sih?!” Semua orang semakin ternganga melihatnya. Ibu Ijah dan Neneng pun mengangkat dagunya dengan sombong. Kemudian Ibu Atunt dengan wajah cerianya segera mengambil uang yang ada di atas meja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar