Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Kali ini aku akan membahas tentang kontroversi Sinetron. Tahu sinetron dong? Salah satu tayangan televisi Indonesia paling legend. Bahkan sinetron bisa sampai ribuan episode. Legend kan?
Kali ini aku akan membahas tentang kontroversi Sinetron. Tahu sinetron dong? Salah satu tayangan televisi Indonesia paling legend. Bahkan sinetron bisa sampai ribuan episode. Legend kan?
Hanya sedikit bercerita, dulu… dulu banget… aku
salah satu pecinta sinetron (kenyataan yang sangat pahit -__-). Saat itu aku
belum mengenal Drama Korea dan Anime. Kalau inget masa-masa itu tuh rasanya
sesek ._.
Sinetron jadi konsumsi sehari-hariku, karena
tayangan televisi Indonesia yang menarik untukku (dulu) adalah sinetron -__-
(lebih tepatnya, sinetron ada dimana-mana, jadi terpaksa nonton yang ada ._. :v)
Jika ditanya ‘kenapa dulu kamu suka sinetron?’ jawabanku adalah… entahlah, aku sudah tidak mengingatnya. Tapi satu hal yang ku ingat ‘setiap kali aku menyalakan televisi sepulang sekolah ataupun sore hari, bahkan malam hari, pasti yang muncul itu sinetron atau ftv :v’
Jika ditanya ‘kenapa dulu kamu suka sinetron?’ jawabanku adalah… entahlah, aku sudah tidak mengingatnya. Tapi satu hal yang ku ingat ‘setiap kali aku menyalakan televisi sepulang sekolah ataupun sore hari, bahkan malam hari, pasti yang muncul itu sinetron atau ftv :v’
Kebanyakan stasiun televisi Indonesia itu hanya
mementingkan rating dan daya saing, tanpa mempedulikan unsur yang lain :3 :v … Dan
sekarang aku merasa bersyukur karena ada chanel-chanel tv yang tidak
menayangkan sinetron, seperti N*T, K***** tv, dll.
Kita mulai dari, apa sih arti dari sinetron yang
sebenarnya?
Sinetron adalah salah satu sinema Indonesia yang menceritakan tentang bagaimana kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari. Tapi nyatanya, sinetron saat ini sangat melenceng dari arti tersebut. Banyak adegan yang dibuat-buat dan terkesan ‘lebay’ dengan banyak kekerasan sosial yang merusak moral bangsa. Contohnya seperti pembully-an disekolah.
Sinetron adalah salah satu sinema Indonesia yang menceritakan tentang bagaimana kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari. Tapi nyatanya, sinetron saat ini sangat melenceng dari arti tersebut. Banyak adegan yang dibuat-buat dan terkesan ‘lebay’ dengan banyak kekerasan sosial yang merusak moral bangsa. Contohnya seperti pembully-an disekolah.
Sinetron saat ini banyak menceritakan tentang kisah
cinta anak remaja, yang sangat jauh melenceng dari budaya dan kebiasaan orang
Indonesia. Sinetron yang seharusnya mengangkat kisah atau kebiasaan masyarakat
Indonesia, malah mengubah kebiasaan masyarakat Indonesia itu sendiri. Yang paling
disayangkan adalah kurang tegasnya KPI menindak tayangan-tayangan tersebut.
Padahal, sebuah acara di televisi dapat disaksikan
oleh jutaan masyarakat secara bersamaan. Survei International Foundation for
Election System (IFES) mengungkapkan, 85 persen masyarakat Indonesia memperoleh
informasi dari televisi. Sedangkan menurut Media Index Wave 2005, televisi
dikonsumsi 92 persen masyarakat Indonesia, mengalahkan suratkabar yang cuma 28
persen dan majalah dengan 19 persen. Jangkauan pemirsa sudah mencapai ke
seluruh pelosok nusantara. Sedangkan sinetron adalah tayangan televisi yang
paling mendominasi, dan sudah pasti banyak masyarakat yang menontonnya baik itu
anak-anak, remaja, bahkan manula. Terlebih, sinetron banyak ditayangkan pada
prime time (waktu utama siaran televisi, sekitar pukul 18.00-23.00).
Sinetron yang berlatarkan sekolah dengan didominasi
cerita cinta dan kekerasan, serta mengesampingkan pendidikan telah ditiru oleh
banyak orang. Alur cerita yang terus-menerus mengulang adegan ‘tidak
menyenangkan’ itu tidak pantas untuk dipertontonkan. Ditambah dengan
tokoh-tokoh yang tidak manusiawi.
Dampak negative dari sinetron tentu lebih banyak
daripada dampak positif nya, dan jujur saja… aku tak bisa menyebutkan apa
dampak positif dari sinetron. Sebagai contoh dari dampak negative sinetron
adalah saat ini remaja Indonesia lebih mementingkan tentang cinta dibanding tentang
cita-citanya. Dan yang lebih mengganggu adalah banyak anak kecil yang seringkali meniru adegan yang tidak pantas. Seperti, memperagakan adegan dimana dua orang gadis memperebutkan seorang lelaki dengan berbagai macam kekerasan fisik, dan kekasaran dari perkataan yang mereka keluarkan. Sangat ironi, apalagi ketika kedua orang tua mereka membiarkan mereka terus menonton tayangan yang tidak mendidik itu. Contoh kasus nyata yang terbukti di persidangan bahwa itu adalah
pengaruh dari ‘sinetron’ sudah banyak didapati.
‘Kontroversi Sinetron’ ada yang pro, dan ada yang
kontra. “Kenapa sih mereka masih saja membela sinetron yang jelas-jelas tidak
mendidik?” itulah pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang-orang yang
kontra terhadap sinetron. Dan biasanya, orang-orang yang pro terhadap sinetron
akan berkata “Mereka menjelekkan sinetron karena mereka iri.”
Jika harus dikatakan dengan tegas dan sedikit kasar,
maka aku akan mengatakan “Mereka (orang-orang yang pro) menuduh kami
(orang-orang yang kontra) iri, karena sebenarnya mereka tidak memiliki bukti
untuk membuktikan bahwa sinetron memiliki dampak positif.”
Rating memang penting. Tapi ingat, salah satu unsur intrinsik
dari sebuah cerita adalah amanat. Jika amanatnya sudah tidak baik, lalu apa
cerita tersebut masih layak untuk dipertontonkan? Harapanku sampai saat ini
untuk per-televisi-an Indonesia adalah hapuskan tayangan yang tidak mendidik
dan merusak moral bangsa.
Nah… readers, Apa pendapat kalian tentang sinetron?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar