Selasa, 05 Mei 2015

Teks Anekdot "Berapa Duit sih?" berupa dialog



Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Ketemu lagi ^-^)/
Kalau tadi aku posting teks anekdot berupa narasi. Kali ini aku akan posting teks anekdot berupa naskah dialog. Tentu, isi teks ini masih sama seperti teks sebelumnya, dan sama-sama ku buat bersama teman-teman.
Semoga kalian tidak bosan membacanya. Selamat menikmati~ >w<)//


Pada suatu hari, disebuah Puskesmas, ada dua orang suster yang terlihat sedang berjaga dibalik tempat administrasi. Suster Febi sedang asyik menunggu pasien datang, sedangkan suster Lia sedang asyik dengan handphone dan makanannya. Datanglah seorang pasien yang terlihat sedikit kotor dengan pakaian yang kurang enak dilihat, dia datang bersama ibu-nya. Pasien itu bernama Neneng, dan ibu-nya bernama Ijah. Merekapun segera datang ketempat administrasi untuk melakukan pendaftaran. Tak lama setelah itu, datang seorang pasien yang berdadan layaknya orang kaya, dia bernama Atunt.
Suster Febi: “Ada yang bisa Saya bantu?” (sambil menatap ke arah Ibu Atunt)
Ibu Atunt: “Hah? Saya?” (Ibu Atunt keheranan, lalu berjalan tanpa memperdulikan Ibu Ijah)
Suster Febi: “Silahkan isi formulirnya…” (dengan sikap yang ramah)
Ibu Atunt pun selesai mengisi formulirnya.
Suster Febi: “Sus… Suster… Suster!”
Suster Lia: (Mengangguk lalu berdiri, tatapannya tak lepas dari hp)
Ibu Atunt: (sedikit menarik perhatian Suster Lia)
Suste Lia: (Menatap Ibu Atunt dengan kagum) “Mari Bu, Saya antar!”
Ibu Atunt dan Suster Lia pergi ke ruang pemeriksaan. Sementara itu, Ibu Ijah masih diam di tempat administrasi.
Ibu Ijah: “S-“ (dipotong oleh Suster Febi)
Suster Febi: “Bu!”
                     “Berhubung Dokternya belum datang, lebih baik Ibu menunggu dulu.”
Ibu Ijah: “Eh? Iya… iya…” (sambil mengangguk)
Diruang pemeriksaan, dokter belum datang.
Suster Lia: “Maaf Bu, bisa menunggu sebentar. Saya panggilkan Dr.Coikheu terlebih
                  dahulu.”
Ibu Atunt: “Jangan terlalu lama ya…”
Dokter pun datang.
Dr. Coikheu: “Aduh… maaf Bu Saya terlambat.” (sambil membuka laptop-nya)
Ibu Atunt: “Iya, tidak apa-apa…”
Dr. Coikheu: “Apa keluhan Ibu?”
Ibu Atunt: “Saya sering pusing, mual, dan jantung Saya berdetak lebih kencang.”
Dr. Coikheu: “Emmh…” (berfikir, kemudian menuliskan resepnya)
                     “Ini resepnya. Nanti tolong berikan pada suster yang ada disana, ya?”
Ibu Atunt: “Baik Dok…”
Di luar ruangan.
Ibu Atunt: “Sus, ini resepnya.”
Suster Lia: (cepat-cepat menyimpan hp-nya) “Oh… iya Bu. Silahkan menunggu diruang tunggu, Saya ambilkan dulu obatnya.”
Diruang tunggu.
Neneng: “Bu, kapan giliran kita?” (dengan ekspresi yang sudah lelah menunggu)
Ibu Ijah: “Nanti, kita tanyakan dulu…” (pergi ke tempat administrasi)
                 “Sus, kok anak saya nggak di panggil-panggil?”
Suster Febi: “Apa Ibu membawa BEPEJEJES?”
Ibu Ijah: “BEPEJEJES? Apa itu Sus?”

Suster Febi: “Kartu jaminan kesehatan. Kalau Ibu tidak membawanya, lebih baik Ibu pulang dulu. Kemudian kembali lagi kesini dengan persyaratan yang lengkap.”
Ibu Ijah: (terlihat bingung kemudian kembali ke ruang tunggu)
Ibu Atunt dipanggil untuk menebus obatnya.
Suster Febi: “Ibu Atunt…”
Ibu Atunt: “Iya?” (berjalan ke tempat administrasi)
Suster Febi: “Ini obatnya…” (tersenyum ramah)
Ibu Atunt: “Berapa Sus?”
Suster Febi: “Lima puluh ribu rupiah…”
Ibu Atunt: (membuka tas, lalu panik karena tasnya kosong)
(Ibu Ijah dan Neneng datang)
Ibu Ijah: (melemparkan isi tas ke meja)
Neneng: “Berapa duit sih?!” (dengan nada belagu)
Semua orang yang ada disana –termasuk Dokter-, kaget melihatnya. Ibu Atunt dengan ekspresi senang-nya segera mengambil uang yang ada dimeja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar